Makmurkan Anggota, Sudah Saatnya Kelompok Tani Merambah ke Bisnis Agrowisata Wisata Sawah

Kelompok Tani Ternak Salira Leuwiseeng – Hidup di zaman serta IT mengharuskan insan pertanian mengikuti perkembangan zaman dan teknologi serta trend kehidupan saat ini. Jika jaman dulu pertanian adalah hanya sebatas bercocok tanam menanam padi, singkong dan lain-lain, sekarang zaman sudah berubah. Trend Wisata Alam menjadi incaran banyak orang.

Suasana Alam Pedesaan yang Indah Rindang Sejuk diprediksi akan mampu membuat banyak orang (dari perkotaan) takjub dan menjadikannya sebagai destinasi tujuan liburan atau piknik. Fenomena seperti itu seharusnya ditangkap dengan baik oleh para insan Kelompok Pertanian untuk bisa menciptakan semacam bisnis baru atau bisnis lanjutan yaitu Agrowisata Wisata Sawah, dengan tetap tidak mengurangi makna bertani menanam padi, artinya proses dan produksi menanam padi adalah tidak terganggu dengan adanya Objek Wisata Sawah dimaksud.

Di tujuan awal Kelompok Pertanian memang tidak tercantum hal aktifitas Wisata Sawah, tetapi akhir-akhir ini kita bisa melihat beberapa bahkan banyak insan Kelompok Tani yang selangkah lebih maju dari kita, mereka mengumpulkan anggota kelompok tani yaitu mereka-mereka para pemilik lahan pertanian untuk di ajak rembugan tentang hal Wisata Sawah. Sang Ketua Kelompok harus mampu menjelaskan secara ekonomis hal keuntungan adanya Wisata Sawah untuk kemakmuran seluruh anggota. Ketua Kelompok Pertanian juga harus mampu meyakinkan dan menjelaskan bahwa keberadaan Wisata Sawah tersebut adalah sama-sekali tidak akan mengganggu Produksi Padi para anggota kelompok.

Tentu saja, harus ada pula penjelasan tentang bagaimana sistem pembagian keuntungan dari hasil tiket Wisata Sawah tersebut, yang tentunya harus berpihak kepada kepentingan seluruh anggota kelompok.

Saya melihat jika suatu Kelompok Tani ingin mendirikan Zona Wisata Sawah, maka untuk pembagian keuntungan dari pendapatan tiket masuk ke Wisata Sawah tersebut adalah dirumuskan dengan cara sebagai berikut :

1. Harus didata dulu setiap anggota kelompok yang masuk ke Kelompok Tani tersebut

2. Tentunya karena kita akan menciptakan suatu zona Wisata Sawah, maka anggota kelompok tani dimaksud adalah mereka yang memilki lahan yang memang berdekatan satu sama lain dalam satu blok zona tersebut agar nantinya bisa disatukan ke dalam suatu sistem Wisata Sawah. Jadi untuk petani yang memiliki sawah yang memang terpisah dari zona khusus yang akan dijadikan Objek Wisata Sawah, tentunya itu tidak bisa diterima petani tersebut untuk ikut dalam anggota.

3. Perhitungan keuntungan adalah berdasarkan prosentase. Seorang anggota kelompok yang lahan sawahnya adalah luas, tentunya akan mendapatkan prosentase yang lebih besar dibandingkan dengan seorang anggota kelompok dengan jumlah luas lahan yang sempit. Itu adalah masuk akal dan adil (menurut saya).

4. Wisata Sawah dijaga oleh beberapa orang yang dipercaya amanah. tentunya ada Fee untuk para penjaga/pengelola langsung yang aktif langsung dalam keseharian Wisata Sawah tersebut.

5. Bentuk Wisata Sawah yang tidak akan mengganggu jalannya Pertanian adalah dengan cara pembuatan jalan melayang diatas pesawahan. Hal ini sudah banyak dicontohkan oleh beberapa rekan kita yang lain dan memang sukses mereka melakukan itu. Dengan cara membuat jalan layang misalnya selebar 1.5 meter, maka hal itu tidak akan mengganggu proses produksi pertanian karena aktifitas pertanian ada di bawah jalan layang tersebut, bahkan para wisatawan bisa dengan asyik menonton / menyaksikan para petani yang sedang beraktifitas di sawah mereka masing-masing.

Demikian idea dari kami,

Salam,
Pipih Pirmansyah
Kelompok Tani Ternak Salira Leuwiseeng Sukaherang Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat
WA : 08-5353-99-4262

Tags: #Agrowisata #Anggota #Bisnis #Kelompok Tani #Makmur #Merambah #Wisata Sawah