Kalau mau, Picung Bisa Disulap Jadi Kampung Warna

203 views
Kalau mau, Picung Bisa Disulap Jadi Kampung Warna

Jalan lebar 1.5 meter menuju Picung, hanya bisa dilalui oleh Sepeda Motor

Kelompok Tani Ternak Salira Leuwiseeng – Matahari mulai muncul bergerak ke atas dari lebatnya pohon-pohon besar disebelah Timur kampung Leuwiseeng. Orang menyebutnya Picung.

Kumpulan Kolam-kolam yang luas dan juga hamparan pesawahan menjadi pemisah Picung dengan kampung leuwiseeng, tetapi secara peta wilayah perkampungan, Picung masih termasuk kampung Leuwiseeng, Desa Sukaherang, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Penduduk Picung adalah satu keturunan, dengan demikian, secara psikologis ini akan memudahkan dalam penataan pola pikir masyarakatnya, karena ada keterikatan batin yang sangat kuat antar satu dengan yang lainnya.

Picung memiliki perkumpulan Pemuda Pemudi, bernama BARVIC, Istilah singkat dari “Barudak Picung”. Dan itulah tulang punggung dan juga kekuatan Picung, merekalah yang bertugas mengamankan wilayah Picung dari segala gangguan dari Luar, menjaga Picung agar senantiasa Aman dan Amin.

Dengan luas area yang tidak terlalu besar (kurang dari 1.900 meter persegi untuk wilayah perkampungannya saja, tidak termasuk wilayah hutan nya), maka Picung akan lebih mudah untuk dilakukan proses Rehab wilayah menjadi suatu Wilayah Kampung Warna.

Kampung Warna adalah Istilah kami untuk menggambarkan suatu kampung yang penuh dengan hiasan warna-warni di banyak titik, sehingga membuat betah banyak mata yang memandang. Kampung Warna juga merupakan suatu Istilah untuk mensifati suatu wilayah yang Asri, Bersih, Segar, Aman dan Sejahtera masyarakatnya.

Sehingga, Jelas sekali bahwa Kampung Warna dapat bertujuan untuk membuat Kampung menjadi Hidup, Bersih, Tidak Jorok, Tertata Rapi dan lain-lain, yang akhirnya tidak dipungkiri bahwa Kampung Warna bertujuan untuk menarik sebanyak mungkin orang (Wisatawan) untuk menjadi Mau berkunjung kesana.

Dalam pelaksanaannya, untuk mewujudkan Kampung Warna, maka seluruh Warga harus berperan aktif, karena ini adalah Sistem Kolektif Sosial, tidak bisa dikerjakan oleh hanya sebagian warga atau sendirian, sangat tidak bisa, karena akan bertabrakan dengan privasi masing-masing warga, misalnya saja dalam proses pengecatan Dinding rumah, itu tentunya harus dengan kesadaran sendiri sang pemilik rumah. Jadi jelas sekali bahwa Program Kampung Warna bisa berjalan jika semua warga mendukungnya dan sadar serta faham akan manfaat jangka panjang dari Kampung Warna.

Pintu masuk ke wilayah Picung adalah terletak di dekat Pos Kamling RT 03/04 RW.09, disana ada jalan dengan lebar 1.5 meter sepanjang kurang lebih 500 meter menuju Rumah-rumah di Picung. Sebelah kiri jalan terdapat Kolam yang luas, sedangkan sebelah kanannya dijaga oleh Pesawahan yang luas pula.

Jelas sudah bahwa Picung, bisa untuk dijadikan Ekowisata atau Ekoturisme. Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Agar supaya warga Picung menjadi lebih baik dalam hal perekonomiannya dari Sistem Kampung Warna ini, maka seluruh Warung yang berada di area Kampung Warna Picung harus berbasis Koperasi. Kita mengambil Sistem Koperasi agar hasil usaha dari Kampung Warna ini dapat dinikmati secara merata oleh seluruh Warga Picung. Dengan demikian, Pedagang dari Luar, hanya dapat berdagang di luar gerbang masuk ke Picung (tidak di dalam wilayah Kampung Warna nya).

Berikut ini adalah gambaran Fasilitas dan Keunikan yang bisa di usahakan ada di Kampung Warna Picung, adalah:

  1. Setiap rumah, di cat dengan sangat unik dan cerah, sehingga tidak kumuh
  2. Ada area TPA (Tempat Pembuangan Sampah Akhir) dimana sampahnya dibakar setiap hari (bisa saja diusahakan ada teknologi pengolah sampah kedepannya)
  3. Ada MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Yaitu tempat untuk umum, untuk keperluan Mandi, mencuci, dan buang air besar, dengan kondisi selalu terawat dan tertata rapi, tidak bau, tidak jorok dan berwarna terang.
  4. Ada Tempat Pengajian Anak-anak dan juga Dewasa.
  5. Ada Free WiFi 24 Jam.
  6. Ada Perpustakaan Umum.
  7. Ada Kelompok Tani Ternak yang membudidayakan Pembenihan & Pembesaran Belut dengan Sistem Kolam Semen bertingkat (kenapa memilih bertingkat? karena sudah sempitnya lahan/wilayah Picung, maka satu-satunya cara adalah dengan bertingkat ke atas).

Dan kami yakin bahwa dari deretan fasilitas di atas, maka Fasilitas yang paling menarik menurut Anak Muda Masa Kini adalah Fasilitas Free WiFi nya, dimana mereka dapat Internet-an Secara Gratis selama 24 Jam setiap hari.

Sumber APBK (Anggaran Pendapatan Belanja Kampung) yang utama adalah bisa bersumber dari Budidaya Belut Terpadu tersebut. Kami yakin bahwa Hasil dari Sukses Budidaya Belut akan lebih dari cukup, dan masyarakat menjadi Sejahtera. Sehingga Usaha Budidaya Belut ini harus dikerjakan Bersama-sama, di ikat dengan Sistem Kelompok Tani Ternak, tidak boleh dikerjakan sendiri-sendiri, Harus Berjamaah agar supaya menjadi Kuat dalam segalanya.

Satu-satunya cara untuk bisa mewujudkan keinginan atau Rencana besar tersebut adalah dengan mensukseskan Sumber APBK (Anggaran Pendapatan Belanja Kampung) nya. Artinya, ketika Usaha Utama yaitu Budidaya Pembenihan dan Pembesaran Belut sudah berhasil, maka itu secara otomatis akan lebih melancarkan segala urusan yang mengarah ke Rencana Kampung Warna, karena kami faham bahwa dalam Penataan Kampung Warna ; kendala besarnya adalah ada di Keuangan, maka dari itu, Usaha Intinya dulu harus disukseskan, makmurkan dulu warga dengan usaha tersebut).

Warga, dalam hal ini terutama Pemuda Pemudi yang tergabung dalam BARVIC (Barudak Picung) adalah yang paling bertanggung jawab. Maju Mundurnya Kampung Warna, ada di pundak BARVIC.

Peningkatan Kemampuan SDM Barvic harus selalu ditingkatkan, Kerjasama dalam Kelompok Ternak untuk mau mempelajari Budidaya Pembenihan dan Pembesaran Belut agar bisa dijadikan suatu Sumber Penghasilan Usaha yang lebih dari cukup, harus selalu di tanamkan dalam Perjuangan BARVIC, tanpa begitu, maka akan sulit untuk mewujudkan Sketsa – Kampung Warna Picung, dan akan hanya sebatas Wacana pribadi saya hari ini, Kamis, 8 Februari 2018. (Pipih Pirmansyah)

Tags: #Kampung #Kampung Warna #Picung #Sulap #Warna